Cerita 200917: Maju Duluan

Saya terlibat pembicaraan cukup serius tadi malam. Lagi-lagi tentang jodoh, Hahah… 😅😅😅 Nampaknya memang obrolan ini selalu jadi topik utama, apalagi berkumpul dengan para jombloers. Tadi malam salah satu sahabat bagai menjadi narasumber, karena sudah mendapatkan pasangan. Rata-rata pembicaraan ini sering kita dengar, masih berkisar sabar, ikhlas, menunggu dan menjajaki takdir. Yeah, secara teori memang mungkin banyak yang sudah khatam. Tapi tidak dengan praktek. Mempraktekkannya memang tidak semudah teori, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Sulit, tapi mari kita berpasrah kepada takdir itu sendiri.

Lanjutkan membaca “Cerita 200917: Maju Duluan”

Iklan

Maukah berjuang denganku?

Aku pernah, bahkan sering mendengar kisah-kisah para orang terdekatku mendapatkan pasangan.

Aku pernah terjebak menjadi saksi, di suatu makan malam yang akhirnya menjadi sebuah lamaran yang cukup “so sweet” menurutku.

Aku juga pernah menemani sahabatku untuk memohon izin melamar gadis yang dia cintai ke seorang ayah

Aku juga pernah membantu menjadi panitia di beberapa pernikahan sahabatku.

Seperti hari ini, lagi-lagi aku membantu sebuah acara pernikahan. Lanjutkan membaca “Maukah berjuang denganku?”

Perasaan

Perasaan antara pria wanita bersifat fitrah dan hal itu tidak berdosa

Dosa akan dinilai dari bagaimana keduanya memenuhi perasaanya itu,

Apakah dengan cara yang baik atau yang buruk?

-Felix Y Siauw dalam buku “Beyond The Inspiration” (Hal. 158)

Nggak ada habisnya memang ngomongin soal perasaan. Saya jadi teringat salah satu teman saya di Bandung. Keduanya punya perasaan yang sama, terlihat jelas dari keduanya. Keduanya orang yang taat beragama, bahkan menjadi panutan saya. Tapi sayangnya perasaan mereka tidak bertemu dalam satu akad. Teman saya yang perempuan akhirnya memilih laki-laki yang saya rasa baru dia kenal. Tapi berani bertanggung jawab atas perasaanya. Saya sering banget berpikir “Emang bisa ya? Mencintai seseorang yang baru kita kenal”. Dan ternyata memang bisa. 

Manusia memang sering sekali perasaannya berubah. Maka, mari belajar bertanggung jawab dengan perasaan kita masing-masing. Bahasa yang sering dikeluarkan adalah “Halalkan atau Tinggalkan”. Tentu saja setiap keputusan akan ada resikonya. Maka ambillah resiko yang bisa kita hadapi. Dan bertanggung Jawablah dengan keputusan yang diambil. 

Selamat mengambil keputusan…

😊😊😊😊

Pagi-pagi sekali smartphoneku sudah berbunyi tanda ada notifikasi yang masuk. Saat kulihat ternyata hanya notifikasi dari Facebook yang mengingatkan bahwa hari ini ada yang berulang tahun. Beberapa nama keluar, dan salah satunya adalah kamu. Iya, kamu yang belum pernah kutemui secara langsung tapi begitu berkesan di hati.

Kuberanikan untuk mengirimkan ucapan selamat ulang tahun padamu. Tak kuduga ternyata ada balasan darimu. Mengucapkan terima kasih dan menanyakan tahu darimana. Awalnya aku pikir akan mengarang cerita untuk menjadi bahan obrolan kita berdua. Aku rasa akan menyenangkan jika ada bahan obrolan denganmu.

Aku urungkan niatku itu. Aku tidak mau mengarang cerita untuk kita. Biarkan yang membolak-balikkan hati yang menciptakan cerita untuk kita. Jika kita memang berjodoh, maka itu akan menjadi cerita yang sangat indah untuk kita. Tapi jika tidak, tidak masalah bagiku. Toh, aku hanya kehilangan orang yang tak mau diisi hatinya.

 

Tahukah kamu?

Kau ingat? Saat pertama kali kau membalas SMSku? Saat itu kau sedang berulang tahun, aku memberikan doaku melalui SMS. Kau tahu? Aku bahkan menyebut namamu dalam setiap doaku. Aku berharap itu menjadi salah satu hal romantis yang kulakukan padamu.
Kau tahu? Diam-diam aku hampir setiap hari membuka media sosial, berharap ada namamu muncul. Hanya dengan melihatmu di dunia media sosial bisa membuat senyumku bertahan cukup lama.
Kau tahu? Sahabat terdekatku mengatakan perasaan ini sungguh sangat tidak masuk akal. Bahkan dia mengatakan aku harus konsultasi kepada psikiater.
Kau tahu? Perasaan ini tidak pernah bergerak walau hanya satu jengkal dalam waktu yang lama. Dan entah sampai kapan perasaan ini akan seperti ini.
Kau tahu? Setiap awal, pasti ada akhir. Begitu juga perasaan ini. Besar harapanku perasaan ini berakhir pada sebuah akad pernikahan. Jikapun tidak, biarkanlah perasaan ini habis dimakan waktu dan takdir.

Dicintai atau Mencintai?

Setiap pagi di kantor saya mengadakan Pertemuan Pagi. Yang dimana disitu kita ikrarkan Pancasila perusahaan, nyanyi Mars Perusahaan dan Share Cerita pagi yang dipilih secara undian dengan pertanyaan yang sudah disiapkan juga undiannya. Hari ini pertanyaannya Dicintai atau Mencintai? Tema yang selalu menarik untuk dibahas, bahkan tiada habisnya untuk dibahas.

Jika saya harus memilih, maka saya akan memilih 2-2nya. Kenapa saya harus memilih satu, saat saya bisa memilih 2-2nya 😀 . Tapi jika harus memilih yang mana terlebih dahulu, maka saya akan memilih Mencintai. Saya ibaratkan mencintai itu sebuah kewajiban, dan dicintai adalah sebuah hak. Dahulukan dulu kewajiban, baru kita akan mendapatkan hak. Bagaimana jika kita tidak mendapatkan hak? Sudahlah biarkan, bukankah hidup ini memang akan selalu bicara kesabaran dan keikhlasan?

tumblr_nfkfmhPnbK1s91y3fo1_1280

Love Someone

“If You Love Someone just tell.”
Itulah kata-kata yang kau ucapkan saat kita sedang membicarakan Cinta. Aku hanya membalasnya dengan senyum saat itu. Aku langsung menundukkan pandanganku sambil tetap tersenyum saat kekasihmu menyuapkan sepotong kue coklat kesukaanmu lalu merangkul tanganmu.
Bagiku cinta tidak sesederhana itu. Memang harus dikatakan, tapi harus diwaktu yang tepat. Aku tidak akan akan semudah itu mengumbar cintaku.
Kamu, orang yang selama ini di hatiku. Entah bagaimana jalannya aku bisa mencintaimu dalam waktu yang lama. Kau tampaknya sangatlah setia dengan kekasihmu yang sekarang. Dan aku tetap setia mencintaimu. Entah sampai kapan perasaan itu akan tetap ada. Bagiku mencintai bukan sekedar mengatakan. Ada tanggung jawab ketaqwaan dan keimanan yang harus kupegang teguh. Saat ini, mencintaimu dalam doa, rasanya lebih indah daripada harus menjadi kekasih semumu.