Teringat

Waktu itu aku sering sekali melihatmu membawa sepeda untuk berangkat sekolah, disaat kebanyakan orang memilih motor. Aku rasa saat itu aku mulai terkesan padamu.

Disaat anak laki-laki seusiamu lebih memilih membaca komik bahkan tidak membaca sama sekali, kamu memilih membaca banyak hal untuk menambah ilmu. Aku rasa saat itu untuk beberapa saat, mataku terpaku memandangmu.

Kudengar saat lulus sekolah, kamu menjadi peringkat 1. Banyak univeraitas negeri yang sudah siap menerimamu. Tapi semua kamu tolak, kamu memilih untuk bekerja. Saat itu aku baru tahu kalau kamu adalah anak pertama. Aku rasa, aku mulai mengerti kenapa kamu lebih memilih untuk bekerja.

Aku dan kamu tidak pernah akrab. Bahkan aku tidak pernah tahu nama lengkapmu. Kita berdua hanya beberapa kali bertemu untuk sekedar berdiskusi. Aku ingat, saat itu kamu menanyakan tentang bagaimana pacaran dalam pandangan islam. Dan aku meminta makan siang steak di dekat kampus sebagai bayaran. Ah, sebenarnya itu hanya akal-akalanku agar bisa menghabiskan waktu lebih lama denganmu. Karena aku tidak punya alasan lagi untuk berbagi kabar demganmu. Dan benar saja, seingatku setelah makan siang di hari itu, kita tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang. Bahkan aku tidak pernah lagi mendengar kabarmu. Nomor hpmu sudah tidak pernah aktif lagi. Lucunya aku masih menyimpan nomormu dan iseng menelpon, siapa tau bisa nyambung. Media sosial tidak pernah kamu gunakan lagi. Sampai akhirnya aku hampir lupa tentangmu.

Dan hari ini, aku teringat kembali tentangmu. Tidak banyak yang bisa kulakukan. Hanya bisa berdoa, semoga kamu disana baik-baik saja.

Dipublikasi di Curcol | Meninggalkan komentar

11 Januari 1976

Kalo dengar kata 11 Januari, jadi inget lagunya gigi dengan judul yang sama. Baru-baru ini Ka Nila bongkar file-file di rumah, dan ternyata…. jreng jreng jreng… Tanggal 11 Januari itu adalah hari istimewa antara papa dan mama. Tepatnya tanggal 11 Januari 1976 mama dan papa mengikat janji suci. Mama sering cerita masa-masa bersama Papah. Dan kalo saya mengingat-ingat ceritanya, bisa membuat saya senyam-senyum sendiri. Xixixixi 😀

Pah… baik-baik ya disana…

Semoga kita nanti kita sekeluarga bisa berkumpul di Jannah-Nya

papamama

Dipublikasi di Curcol | 1 Komentar

Terkadang untuk menghibur orang yang sedang sedih,

Tidak perlu melakukan yang menyulitkan dirimu,

Tidak perlu tanya dia kenapa, apa yang terjadi,

Cukup diam disampingnya, 

Biarkan dia yang bercerita tanpa kita tanya,

Bahkan jikalau sampai akhir dia tidak menceritakannya,

Cukuplah diam dan doa menjadi penghibur

Dipublikasi di Curcol | Meninggalkan komentar

Agar jangan sampai…

​Dapet kisah ini dari temen di facebook. Andaikan semua muslim seperti ini. Saya pribadi merinding dan sangat terharu membacanya.
Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.

Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :

“Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!”
“Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”.
Umar segera bangkit dan berkata :

“Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?”
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :

“Benar, wahai Amirul Mukminin.”
“Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :
“Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”
“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
“Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
“Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”, ujarnya.
“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.
“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
“Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :

“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah”, ujarnya dengan tegas.
“Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.
“Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
“Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?”, tanya Umar.
“Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin”.

“Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?”, pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.
“Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.
“Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :

“Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin”.
Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.
“Salman?” hardik Umar marah.

“Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.
“Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatan

gan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!” teriak Umar.

“Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,

“Tak kukira… urusan kaumku… menyita… banyak… waktu…”.

”Kupacu… tungganganku… tanpa henti, hingga… ia sekarat di gurun… Terpaksa… kutinggalkan… lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.
”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan… di kalangan Muslimin… tak ada lagi ksatria… menepati janji…” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :

“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”
Kemudian Salman menjawab :

” Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
“Kalian…” ujar Umar.

“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :

”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

MasyaAllah…, saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..

Allahu Akbar … 😭😭😭

Dipublikasi di Curcol | Meninggalkan komentar

Dongeng untuk Allepo

_MT.Aisyah Present …_
*#DongengUntukAleppo* 

📢📢📢📢📢📢📢📢📢
*Narasumber:*

💁🏻 *RONA MENTARI*

( _PILDACIL 2006, Aktivis Dongeng, Founder Rumah Dongeng Mentari dan Dongeng.tv_ )
*_Berbagi lewat cerita dan bercerita untuk berbagi.._*
Mariiii…isi akhir pekannya dengan mendengarkan dongeng sambil berdonasi.

*50%* dr uang tiket yang kalian beli, in syaa Allah akan kami Donasikan untuk saudara2 kita di *Aleppo* melalui *LTTQ Ar Rahmah Sepinggan pratama* Balikpapan.
Catat ya waktunya, dan *segera daftarkan* diri kalian..;);)
📆 _Sabtu, 21 Januari 2017_

🕰 _16:00-18:00 wita_

🕌 _Masjid Ar Rahmah Sepinggan Pratama Balikpapan_
*_Htm : 25rb_*

*_( 50% donasi u/Aleppo )_*
*Cara Daftar :*

_Ketik :_ 

Nama_Alamat_NoHp

(Winda_Gunung 4 Rt 3 No.10_081355xxx)
_Kirim ke :_

•Herwinda 

0852.1930.1941
📌📌📌📌📌📌📌📌

Ayooo…Daftar sekarang juga ;););)
_Supported by :_

*LTTQ Ar Rahmah Sepinggan Pratama Balikpapan*

Dipublikasi di Curcol | Meninggalkan komentar

Kata-kata di tahun 2017

Iseng sih, ikut-ikutan name test. Tapi ternyata pas ikutan, kata-katanya bagusss….

Yang pertama kali meminta maaf adalah yang paling berani.

Yang pertama kali memaafkan adalah yang paling kuat.

Yang pertama kali melupakan adalah yang paling bahagia.

Semoga kita semua bisa menjadi orang-orang yang disebutkan di atas ya…

Aamiin…

Dipublikasi di Curcol | Meninggalkan komentar

Abrasi Gigi

Beberapa minggu ini saya merasa sering ngilu di bagian Gigi. Mengingat kartu BPJS yang nggak pernah terpakai, akhirnya memutuskan ke dokter gigi pagi tadi. Awalnya saya pikir ada gigi yang berlubang, ternyata eh ternyata, gigi saya mulai mengalami Abrasi Gigi. Apa itu Abrasi gigi? 

Abrasi gigi adalah suatu keadaan dimana lapisan terluar yakni email gigi terkikis secara mekanis, yang terjadi karena sebab-sebab tertentu dan terjadinya pada leher gigi. 

Penyebabnya cukup banyak, antara lain:

  1. Cara menyikat gigi yang salah
  2. Kebiasaan menggigit benda keras
  3. Penggunaan sikat gigi dan pasta gigi yang kurang tepat
  4. Seringnya menggunakan tusuk gigi

Dan saya mengakui, hampir semua penyebab saya lakukan. Hikss 😭😫🙇😓 maafkan gigiku, aku telah menzolimimu #halah #plakk 

Foto dapet dari Mbah Google


Tadi sih dokternya nggak ngasih resep obat, cuma memberi beberapa tips biar bisa mengatasi abrasi gigi, antara lain:

  • Menyikat gigi dengan benar, sikat giginya harus searah sama tumbuhnya gigi alias vertikal. Pas sikat gigi, harus disikat dengan lembut, jangan keras-keras
  • Gunakan sikat gigi yang berbulu halus dan berukuran kecil. Dan menggantinya setiap sebulan sekali
  • Gunakan pasta gigi yang mengandung sitrat, pilihlah pasta gigi yang tepat, biar gigi tetap sehat
  • Mulailah untuk tidak memakai tusuk gigi, dan menggantinya dengan benang gigi.

Yuk ah, sama-sama jaga gigi kita masing-masing!! Inget lho, gigi adalah salah satu nikmat yang nanti DISANA akan diminta pertanggung jawabannya. Jadi, kudu dijaga baik-baik. Don’t Miss it!! 🙌🙌🙌🙌

Dipublikasi di Curcol | Meninggalkan komentar