Cerita 04.12.18: Mimpi Sederhana

Baru-baru ini aku melihat sebuah postingan yang menjadi salah satu impianku. Postingan tersebut datang dari Influencer sekaligus beauty blogger terkenal, Suhay Salim. Yang pernikahannya hanya ke KUA dan menggunakan baju yang amat sederhana. Terlepas dari produk-produk make up yang mungkin harganya selangit yang mba Suhay punya, secara setiap orang mempunyai hobinya masing-masing. Dia memilih pernikahan yang sederhana.

Aku merasa tidak mudah untuk melakukan pernikahan yang sederhana seperti itu. Aku membayangkan bagaimana Mba Suhay berjuang meyakinkan keluarganya. Karena tak mudah mendapat restu keluarga untuk melakukan pernikahan sesederhana itu. Belum pagi nyinyiran orang dan para netijen. Ah, pokoknya Salute!!!

Begitu pula aku, aku tak memimpikan sebuah pernikahan mewah di dalam gedung dengan riasan pengantin yang harganya selangit. Aku hanya ingin sederhana, karena sederhana itu biasanya lebih berkah.

Well, beberapa teman yang baik yang belum menikah maupun sudah menikah, ternyata banyak juga yang menginginkan hal yang sama. Dan permasalahannya yang timbul saat ingin mewujudkannya biasanya adalah keluarga. Ya kepingin dua kali resepsi, resepsi di gedung, dekorasi yang bagus dan lain-lain. Apakah salah? Saya rasa tidak, karena ada keberkahan juga dibalik mewujudkan keinginan keluarga apalagi orang tua.

Tapi aku masih berdoa, semoga kelak di hari pernikahanku menjadi sebuah pernikahan yang sederhana dan berkah. Aamiin Ya Allah…

Selain pernikahan yang sederhana, akupun memimpikan jalan cerita cinta yang sederhana. Walaupun aku sebenarnya sering menonton drama korea yang kisahnya sungguh bikin hati cenat cenut 😅😅😅. Aku ingin cinta itu tumbuh ketika akad sudah terucap, karena jelas halal dan berkah. Ah, aku rasa keberkahan mempunyai arti ketenangan sendiri.

Setelah menikahpun aku tidak memimpikan hidup yang bermewah, asal cukup, sederhana dan lagi-lagi berkah. Aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga profesional yang bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. Untungnya, aku sudah cukup merasakan dunia karir.

Inilah mimpiku, mimpi yamg sederhana.

Maukah kamu mewujudkannya bersamaku?

Iklan

Cerita 10.11.2018 Menggantungkan Impian

Jika ingin terus bermimpi, teruskanlah istirahatmu. Tapi jika ingin mewujudkannya, maka bangunlah dan kejar impian itu. Itulah kata-kata motivator jaman sekarang, dan akupun sepakat tidak ada yang salah dengan kata-kata itu.

Lalu ada sedikit yang mengganggu pikiranku. Apakah yang kuimpikan sekarang adalah benar-benar impianku? Apakah ketika aku berhasil menggapai impianku, aku akan menemukan kebahagiaan? Apakah tidak apa-apa mengorbankan beberapa hal untuk menggapai impian itu?

Mungkin karena itu, kita jangan pernah menggantung harapan selain kepada Allah SWT. Agar tidak ada kekecewaan dan yang pasti akan indah pada waktunya.

Sayangnya, mengharap hanyak kepada Allah lebih sering menjadi teori saja. Aku lebih sering menemukan diriku bergantung kepada orang lain, dan berulang kali aku menemukan diri ini dalam kekecewaan.

Cerita 08.11.2018 Rasa Malas

Musuh terbesar setiap orang adalah diri sendiri. Dan sering menjelma menjadi rasa malas. Baru-baru ini aku mendengar ceramah, yang inti dari isi ceramah itu adalah jika di diri ada rasa malas yang berkepanjangan kemungkinan adalah hukuman dari Allah SWT atau terlalu banyak dosa/maksiat yang kita lakukan Naudzubillah Min Dzalik.

Jika terlena dengan hal itu, lama kelamaan hati akan terkunci. Dan sebelum terjadi, marilah memaksakan diri untuk berbuat kebajikan. Tidak perlu memulai dari hal yang susah, mulailah dari yang paling mudah. Salah satunya adalah berdoa, memohon ampun pada Allah SWT.

Semoga kita selalu dalam lindungan Rahmat-Nya.

Cerita 07.11.2018

Di usiaku yang sudah menginjak 28 tahun dan belum menikah, sudah tidak aneh banyak orang menanyakan “Kapan nikah?” Atau bahkan langsung me-judge “Itu sih pilih-pilih”. Awalnya itu menjadi hal paling menyebalkan untuk kudengar. Tapi seberjalannya waktu entah mungkin karena bosan atau mulai terbiasa, kata-kata itu sudah tidak menggangguku lagi.

Seberjalannya waktu, aku mulai mengerti kenapa jalanku seperti ini. Aku mulai menerima keadaanku dan keadaan sekitar.

Mengingat hal yang pernah membuat hati remuk, sudah tidak lagi membuatku sedih, bahkan kini dapat membuatku tersenyum.

Berbagi Terang Untuk Sulawesi Tengah

Berbagi Terang adalah program dari Rawikara Indonesia untuk membantu desa yang belum mendapatkan akses listrik secara permanen dengan pengumpulan donasi dan memberikannya dalam bentuk lampu tenaga surya. Saat ini sudah 6 desa di pedalaman kalimantan yang telah mendapatkan bantuan, antara lain Desa Punan Semeriot, Desa Mului, Desa Muara Andeh, Desa Salok Lai, Dusun Ipi, termasuk Desa Muara Toyu yang baru saja di kunjungi awal Oktober 2018 kemarin, dan masih ada 4 Desa lagi tentunya yang akan mendapatkan bantuan yang sama.

Kali ini, Rawikara Indonesia bersama dengan Dompet Dhuafa menggandeng 10 Campaigner untuk bersama-sama melakukan gerakan kebaikan #MenerangiSulteng, mengumpulkan donasi yang nantinya akan di distribusikan berupa lampu tenaga surya ke 112 titik tenda pengungsian korban bencana alam Sulawesi Tengah.

Pendistribusian donasi ini akan dilakukan oleh Tim Dompet Dhuafa yang sudah mempunyai data mengenai titik-titik pengungsian di area Palu, Donggala dan Sigi,di daerah mana saja yang membutuhkan donasi, karena saat ini Sulawesi Tengah sedang dalam tahap pemulihan, baik itu secara fisik kotanya maupun mental penduduknya.

10 campaigner ini bergerak bersama, menyebarkan gerakan kebaikan sejak 18 Oktober 2018 kemarin untuk memulai program #BerbagiTerang kali ini.

Kenapa hanya 30 Hari? lebih pun tidak masalah, tapi 30 Hari di Tenda Pengungsian tanpa cahaya di kala malam Kami rasa sudah cukup dirasakan saudara saudari Kita, para korban bencana alam Sulawesi Tengah tersebut.

Ayo mulai aksi kita hari ini, ikut berdonasi secara online di kitabisa.com/suryaterangisulteng
.
Maupun secara offline dengan menghubungi kami secara langsung
.
Karena terang tak hanya milik kita, tapi juga milik mereka.
.
Salam Berbagi Terang
.
Yusup
.
Phone/ Whatsapp: +6281367315121
E-mail: suryadiyusup@gmail.com
.
@rawikaraindonesia
@dompet_dhuafa
@kitabisacom
.
#berbagiterang
#rawikaraindonesia #rawikaraindonesiaberbagiterang
#DompetDhuafa
#BerbagiTerangUntukSulteng
#ikutterangisulteng
#kitabisa
#solarlamp
#lamputenagasurya #socialmovement
#charity
#crowdfunding
#DonasiOnline

Al Kafirun dan Toleransi

Saya teringat salah satu kajian di Masjid Istiqamah Balikpapan Ramadhan kemarin. Saya tidak tahu nama Ustadznya, tapi InsyaAllah, panitia masjid selalu mendatangkan Ulama Sunnah. Caption yang paling dibahas kajian tersebut adalah Benarkah Al Kafirun adalah Surah yang mendukung toleransi? Ya, jika hanya dibaca ayat paling terakhir.

Saya diingatkan kembali untuk membaca tidak hanya setengah-setengah, tapi keseluruhan. Dan jika dibaca baik-baik, Al Kafirun bukan mengajarkan kita untuk toleransi tapi menegaskan bahwa orang kafir tidak berhak menginterfensi muslim.

Lihat saja di ayat pertama, kita diingatkan untuk berkata kepada orang kafir, bahwa kita tidak menyebah apa yang mereka sembah.

Wah, kamu radikal ya Yul? | Sering saya dibuat gagal paham dengan pemikiran banyak orang di jaman Now. Menyampaikan ayat kok dibilang radikal? Lalu, mereka yang membunuh anak-anak di timur tengah, apa mereka bisa dibilang mengerti dengan kata “Toleransi”?

Surat Untuk Razan Al Najjar

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.

QS.At-Taubah(9):111

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu (menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya) dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya)”.

QS.Al-Ahzab(33):23

Dear Razan,

Katanya, Wanita Palestina adalah simbol kekuatan, kontribusi, dan perjuangan. Dan kuyakini itu bukan hanya kata-kata belaka.

Kau tau Razan, aku malu sekaligus cemburu sekali padamu. Aku rasa bidadari-pun cemburu padamu disana.

Malu rasanya diri ini masih sering menunda ibadah. Sedangkan aku berlari untuk urusan dunia.

Razan, terimakasih karena telah menyadarkanku bahwa menjadi pahlawan tidak harus mempunyai kekuatan super. Tapi hati ikhlas seluas langit dan lautan.

Razan, terimakasih karena telah memperlihatkanku bahwa senjata tak selalu berupa peluru.

Razan, terimakasih karena telah memberi tahu dunia, disana masih banyak yang berjuang untuk Islam.

Yang tenang ya Razan disana, kemenangan pasti akan kita raih.

Selamat jalan Razan,

Tugas muliamu akan menjadi keabadian.

Semoga kelak, Disana kita bisa berjumpa.