Sampaikanlah Dengan Santun

Ada pengalaman menarik beberapa hari yang lalu saat saya menemani teman makan siang saat transit ke Balikpapan. Tiba ketika dimana kita ingin berfoto bersama, minta tolonglah kami kepada salah satu staff resto untuk mengambil gambar. Kira-kira kurang lebih percakapannya seperti ini.

Saya: Mas, tolong fotokan kami dulu dong sebelum pulang

Staff: Mohon maaf sekali mba, saya tidak mengambil foto, tapi jika hendak mengambil foto, silahkan saja

Saya: (mikir dulu mencerna kata-katanya | dasar lemot πŸ™ˆπŸ™ˆ) Oh, gitu ya mas? Ya Udah deh gpp

Staff: Iya mba, mohon maaf ya mba

Saya sampaikan kepada teman-teman saya, dan semua memakluminya. Akhirnya kami berfoto bersama dengan salah satu orang mengalah tidak difoto.

Yang saya ingin garis bawahi disini, bukanlah soal prinsip yang beliau pegang, tapi cara penyampaiannya yang baik dan santun. Toh tiap orang memang berhak memegang suatu prinsip. Tidak semua orang pandai menyampaikan pendapatnya didepan orang yang berbeda pendapatnya, termasuk saya. Sampaikanlah dengan santun, dengan begitu orang akan mudah memahamimu.

Buat pemilik resto dan para staffnya, Barakallah ya…

Semoga usahanya lancar jaya…

Semoga saya juga dapat menyampaikan sesuatu dengan santun…

Aamiin…

Iklan

30DBC #9 What’s In My Bag

What’s In My Bag – Apa yang ada di dalam tasku? Atau dalam bahasa InggrisnyaΒ What’s In My Bag ? Setiap orang pasti punya barang yang selalu dia bawa kemana-mana. Katanya sih, kita bisa menebak sifat orang dari bawaanya. Tapi saya sendiri tidak mengerti bagaimana menilainyaΒ πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…. Tas favorit yang hampir selalu saya bawa adalah tas ransel berwarna abu-abu mirip seperti tas anak sekolah yang di samping tasnya bisa menaruh botol air minum. Saya beli sekitar 3 tahunan yang lalu saat Gramedia sedang mengadakan diskon besar-besaran. Kenapa harus ransel? Karena tas ransel adalah tas yang ternyaman jika dibawa kemana-mana.

Lanjutkan membaca “30DBC #9 What’s In My Bag”

Blogger and Influencer Gathering at Grand Tjokro Balikpapan

Blogger and Influencer Gathering at Grand Tjokro Balikpapan – Berawal dari ajakan Kak Anggi, melalui group WA, akhirnya saya datanglah ke Acara “Blogger and Influencer Gathering at Grand Tjokro Balikpapan” at Grand Tjokro Balikpapan hari Sabtu kemaren tanggal 23 September 2017. Sumpah, sebenernya nggak pede banget sama acara yang satu ini, pertama karena baru-baru ini saja saya rajin lagi isi blog, kedua isi dari blog saya ini rata-rata curcolan alias ratapan hati saya (da aku mah apa atuh) πŸ™„πŸ™„πŸ™„, ketiga para blogger lain itu blog-nya keyen-keyen dan sudah pada menghasilkan uang, lha saya hobinya curhat mulu, mau begimana nyari duit dari sini. Hahaha.πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

undangan
Blogger and Influencer Gathering at Grand Tjokro Balikpapan

Lanjutkan membaca “Blogger and Influencer Gathering at Grand Tjokro Balikpapan”

Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin

Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin – Berawal dari tulisan teman saya semasa di Salman, Tristi dengan judul yang sama (untuk baca Klik: Disini). Serta obrolan malam bersama teman laki-laki saya (beneran temen bukan TTM or something like that ya). Jadinya saya tertarik untuk menulis Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin dalam versi saya.

Saya teringat saat masih aktif di bangku perkuliahan yang sering melakukan hiking, Ketika melakukan survei, pasti teman-teman membawa satu atau dua perempuan untuk mengukur kemampuan dari sisi perempuan. Dan datanglah saya di survei tersebut, dan kata-kata yang sering saya dengar adalah:

Si Yuli mah ga bisa dijadiin tolak ukur kemampuan perempuan. Dia mah kemampuannya sama kayak laki. Bawa lagi perempuan yang lain

Lanjutkan membaca “Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin”

Perasaan

Perasaan antara pria wanita bersifat fitrah dan hal itu tidak berdosa

Dosa akan dinilai dari bagaimana keduanya memenuhi perasaanya itu,

Apakah dengan cara yang baik atau yang buruk?

-Felix Y Siauw dalam buku “Beyond The Inspiration” (Hal. 158)

Nggak ada habisnya memang ngomongin soal perasaan. Saya jadi teringat salah satu teman saya di Bandung. Keduanya punya perasaan yang sama, terlihat jelas dari keduanya. Keduanya orang yang taat beragama, bahkan menjadi panutan saya. Tapi sayangnya perasaan mereka tidak bertemu dalam satu akad. Teman saya yang perempuan akhirnya memilih laki-laki yang saya rasa baru dia kenal. Tapi berani bertanggung jawab atas perasaanya. Saya sering banget berpikir “Emang bisa ya? Mencintai seseorang yang baru kita kenal”. Dan ternyata memang bisa. 

Manusia memang sering sekali perasaannya berubah. Maka, mari belajar bertanggung jawab dengan perasaan kita masing-masing. Bahasa yang sering dikeluarkan adalah “Halalkan atau Tinggalkan”. Tentu saja setiap keputusan akan ada resikonya. Maka ambillah resiko yang bisa kita hadapi. Dan bertanggung Jawablah dengan keputusan yang diambil. 

Selamat mengambil keputusan…

😊😊😊😊

Cerita, Idul Adha 1438 H

Selamat idul Adha…

Mohon maaf lahir dan batin…

Bagaimana Idul Adha-mu? Aku shalat ied di Lapangan Merdeka Balikpapan. Shalat Idul Adha-ku pagi ini disambut oleh rintiknya hujan. Walau seperti itu, banyak orang tetap menjalani Shalat sampai selesai. Kebanyakan orang yang membawa anak mengungsi ke masjid Istiqamah. Ada juga yang melaksanakan shalat dengan membawa berbagai dagangan seperti balon gas, kacang, telur puyuh, kapas gula dll. Dengan berbagai keadaan, semua jamaah tetap menyambut Idul Adha dengan bahagia. Kebahagiaan itu jelas terpancar di senyum mereka masing-masing.

Walau isi ceramah dan doa tidak begitu jelas terdengar, karena keterbatasan Sound system. Saya dan keluarga saya tetap memilih bertahan ditengah gerimis, demi melaksanakan rukun-rukun yang disunnahkan. 

Dapet foto dari Mba Rara, kondisi yang Shalat ied di BIC

By the way, ini pengalaman pertama saya melaksanakan Shalat Ied dalam keadaan hujan. 

Allahumma Shoyyiban Naafi’aan

– Ya Allah, turunkan kepada kami hujan yang bermanfaat

Rasanya balik lagi Ke jaman Kecil yang cuek main hujan-hujanan. Kali ini ga pake dilarang sama mamah πŸ˜†πŸ˜†. 

Ternyata disisi lain Balikpapan ada hujan yang lebih deras seperti di foto. Saya nggak foto? Ya enggaklah, masih trauma dengan kejadian hp terjun (tanpa) payung. Cukup save di memori otak dan menceritakannya disini.

Ini ceritaku, mana ceritamu?

Dilarang Mengaji

Awal tahun ini dimulai dengan cerita yang kurang mengenakan bagi saya. Setelah memutuskan resign dari pekerjaan lama dan mendapat pekerjaan baru. Di tempat baru pastilah lingkungan baru dan tantangan baru. Awalnya saya sangat suka pekerjaan saya di tempat yang baru. Walau terbilang banyak pekerjaan, tapi saya benar-benar menikmati. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk resign setelah 3 minggu bekerja disana. Saya tidak akan menyebutkan nama perusahaan, karena yang akan saya ceritakan kurang mengenakan.
Tahun baru, tentu target ibadah baru. Itu sudah biasa bagi saya, tapi ternyata tidak di lingkungan baru saya. Terlihat aneh mungkin dimata mereka, kemana-mana membawa quran kecil dan sering mencuri kesempatan untuk membaca. Prinsip saya, yang penting kerjaan saya beres, terserah saya mau ngapain. Toh, teman-teman saya yang lain juga seperti itu. Saat pekerjaan selesai mereka bahkan sibuk membuka internet d komputer masing-masing. Bahkan mereka secara kompak nonton film horor yang menurut saya tidak berkualitas. Merasa tidak cocok, tentu saja saya mundur agak kepojokan dan memulai kegiatan sendiri. Tak aneh yang saya kerjakan, hanya membaca. Membaca quran atau sekedar novel. Membaca tanpa suara. Apakah itu terlihat aneh? Toh saat ada pekerjaan baru saya langsung mengerjakannya dan meninggalkan bacaan saya. Saat ada yang mengajak ngobrol, saya tutup buku dan mendengarkan lawan bicara saya bicara.
Ternyata yang saya lakukan dianggap tabu, aneh, dan salah dimata lingkungan baru saya. Mereka menganggap bahwa Quran yang saya baca cukup saat saya melakuka shalat. Dan saya tidak boleh mbacanya di ruang kantor. Mereka menganggap saya aneh, begitupun saya yang menganggap mereka aneh. Barang tentu saya keberatan, karena saya merasa tidak mengganggu urusan mereka. Memang yang bicara seperti itu hanya 1 orang, tapi saat ‘penghakiman secara sepihak’ itu terjadi yang lain hanya diam, tidak membela. Ada 2 kemungkinan, 1 mereka bingung harus berkata apa, 2 mereka membenarkan kata-kata 1 orang itu. Saya harap yang terjadi adalah kemungkinan pertama. Rasanya ingin sekali menampar orang yang melarang saya Mengaji itu, tapi untuk apa membalasnya dengan amarah? Akhirnya saya memutuskan untuk resign hari itu juga. Awalnya saya berharap pihak perusahaan sekedar mengatakan maaf atau klarifikasi, tapi sampai hari ini (sudah 1 minggu), tidak ada 1pun orang yang menghubungi saya untuk sekedar basa-basi. Kalau saya bekerja di Eropa atau perusahaan asing, saya mungkin masih ‘agak’ mewajarkan hal yang terjadi. Saya tidak tahu apakah yang saya perbuat ini benar atau salah. Tapi yang pasti, memutuskan untuk resign membuat hati saya sekarang lebih tenang. Karena sekarang saya bisa mengaji kapanpun saya mau, membaca dimanapun saya mau.
Dan saya yakin, Allah akan memberi saya yang lebih baik bahkan yang terbaik untuk saya. Untuk perusahaan ‘aneh’ itu, saya berharap hati orang-orang di dalamnya terketuk untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.

image
Padahal saya suka dengan pemandangan di luar kantor, Selamat tinggal perusahaan 'aneh'