Cerita 01.01.2019 Tahun Baru, Hijrah, Mantan dan Muhasabah

Selamat datang 2019, semoga resolusi yang sudah teman-teman buat, semua terwujud. Aamiin Ya Allah.

Terus bagaimana Malam tahun barunya? Tahun ini sayabmemilih muhasabah di Masjid Namira Balikpapan. Kebetulan, Balikpapan Mengaji mengadakan Mabit akhir tahun dengan mengundang beberapa Ustadz.

Peseta Akhwat, Ga usah cari saya, saya nggak ikutan foto πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Tausyiah pertama diisi oleh Ustadz Agus Khoirul Huda Lc, dengan tema tausyiah “Sudah di Level Manakah Hijrah-ku?” Hakikat hijrah harus digunakan setiap hari, hal ini ada lho dalilnya.

Siapa yang lebih baik dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung

Siapa yang sama saja dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi

Siapa yang lebih buruk dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang celaka

Ini adalah hakikat hijrah yang paling mendasar. Adapun Rukun-rukun Hijrah:

1. Niat yang kuat

Kudu punya niat yang kuat dan diniatkan karena Allah SWT. Menurut saya pribadi hal-hal seperti ini sangat harus dilatih. Bisa saja setiap saat niat kita berubah.

2. Muraqabah

Ketika kita merasa Allah benar-benar mengawasi kita, ada rasa was was dimana kita tidak akan pernah mau melakukan dosa karena sangat tahu sedang diawasinoleh Allah SWT.

3. Akhlak yang kuat

Kebanyakan orang yang berhijrah, mereka bagus di Aqidah dan Syariat, tapi sering melupakan akhlak. Muslim yang baik akan tergambarkan dari Akhlak yang baik. Lalu ada ujian ketika orang yang sedang berhijrah yang sudah mengetahui Aqidah dan Syariat, muncul perasaan sombong dalam diri. Muncul merasa lebih baik daripada orang lain. Dan begitulah halusnya setan membisikkan ke dada manusia.

4. Ilmu yang tepat

Ingat, hijrah bukan hanya sekedar semangat yang kuat, semua harus ada ilmunya. Bagaimana kah memilih Ilmu yang tepat? Harus berdasarkan Quran dan Sunnah, isi kajiannya ilmu bukan menghina, dan tidak membuat kita men-judge diri kita paling benar dan orang lain salah.

5. Sahabat Dekat

Pilihlah sahabat dekat yang selalu mengajak pada kebaikan. Kurangi bahkan jauhi teman-teman yang bisa membuat kita dekat dengan maksiat. Kecuali jika merasa sudah kuat untuk mewarnai teman-teman yang belum berhijrah. Jika tidak, maka jauhi sementara.

6. Fokus pada kemaksiatan (taubat), lupakan perbedaan

Fokus pada diri sendiri, tidak usah risih dengan perbedaan. Hijrah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, bukan menjadi ahli debat.

Tausyiah kedua diisi oleh ustadz Deris Arista, dengan tema “Berdamai dengan Mantan”. Jika tak kunjung kudapatkan, maka akan kuikhlaskan dengan Basmallah. Nonono, bukan mantan kekasih, tapi mantan-mantan amal yang telah kita perbuat. Sebanyak apapun amal yang telah kita perbuat, mereka hanyalah mantan, karena sudah lewat masanya. Tinggal apakah akan jadi mantan terindah, atau mantan yang akan menjadi boomerang di hari nanti, yang menjerumuskan kita ke Neraka. Harus selalu belajar meluruskan niat dan harus selalu berlajar dan berlatih untuk selalu berniat melakukan kebaikan. Niat saja sudah bernilai pahala, apalagi benar-benar melakukan.

Tausyiah terakhir dibawakan oleh Ustadz Abu Fauzi Zama, yaitu Muhasabah. DiAwal ceramah ustadz memperlihatkan 10 Muwashafat Tarbiyah, sudah pernah saya tulis sebelumnya. Lalu beliau memutar video kegiatan dakwah di Masjid Sunda Kelapa Jakarta. Yang membuat saya teringat dengan kegiatan dulu di KARISMA ITB.

Lalu masuk kepada materi yang agak berat menurut saya. Beliau menjelaskan bahwa budaya merayakan tahun baru itu adalah sebuah budaya orang nasrani dan Yahudi. Eits, jangan anggap ini radikal ya, menurut saya ini memang hal yang harus kita ketahui dan dijalankan.

Budaya merayakan tahun baru, berasal dari bangsa Romawi dan Paganisme. Yang masih menyembah dewa-dewa. Januari berasal dari kata Janus yang merupakan seorang dewa dan dilambangkan dengan gambar 2 muka yang satu melihat ke masa lalu, dan yang satu lagi ke masa depan.

Beliau memperlihatkan sebuah video yang menunjukan bahwa dulu perayaan tahun bari dilaksanakan setiap tanggal 1 Maret. Dan pada awalnya ditolak oleh orang-orang nasrani karena dinilai melenceng dari nilai agama.

Penulis: yulijannaini

Seseorang yang ingin bercerita tentang kehidupannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.