Balabalagan di Mata Aini

Tahun 2015, Sebelum keberangakatan,

Kuputuskan untuk mengambil cuti dan berlibur ke Kepulauan Balabalagan setelah melihat pamflet yang tak sengaja kudapatkan saat aku sedang lari pagi di lapangan dekat rumahku. 3 hari 2 malam, nampaknya akan sangat cukup merefreshkan pikiran. Aku ingin membuktikan kata-kata sahabatku yang bilang ada surga disana.

Kupersiapkan liburanku layaknya seorang Backpacker, sambil mengingat-ingat pesan sahabatku jika melakukan perjalanan jauh. Tak lupa kupersiapkan keripik pedas level 10 untuk obat mabukku, mengingat perjalanan yang akan kutempuh adalah 10 jam. Kenapa keripik pedas? Aku sudah bosan mencium bau obat, dan sahabatku menyarankan untuk makan yang pedas jika aku merasakan mabuk perjalanan. Kupastikan semua pesan dari sahabatku sudah kumasukan dalam tas.

Tahun 2006,

Bau rumah sakit yang khas sudah tercium dari tempat parkir. Ibu menggenggam tanganku, menuntunku ke arah rumah sakit, mungkin khawatir ada mobil tiba-tiba lewat.

“Kamu tunggu disini dulu ya,” kata ibuku serambi mendudukanku di antara pasien-pasien lain yang sedang mengantri. Aku hanya mengangguk, menuruti kata ibu.

Ada seorang gadis duduk di sebelahku, sibuk membuka handphonenya. Feelingku mengatakan jika dia seumuran denganku.

“Aahh, tetep aja susah akses kesananya,” teriaknya tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “Eh, maaf kaget ya?” sepertinya dia sadar aku terkejut mendengar suaranya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

“Kamu liat deh, ini namanya Kepulauan Balabalagan, kepulauan yang ada di Selat Makasar. Susah banget akses buat kesana,” ia melanjutkan ocehannya.

“Memang disana ada apa?” tanyaku mulai menanggapi.

“Disana pemandangannya bagus banget, lautnya bersih  banget, ga ada deh yang namanya polusi disana.”

“Memang pernah kesana?”

“Pernah, waktu kelas 3 SMP, sekitar 2 tahun yang lalu,” benar saja tebakanku, ternyata kita memang seumuran.

“Oia, kita belum kenalan, namaku Aini bisa dipanggil Ai, atau mau Aini juga boleh,” dia mengulurkan tangannya.

“Jannah,” aku menyambut jabatan tangannya.

“Artinya surga dong,” Aku hanya tersenyum mendengar kata-katanya. “Di Kepulauan Balabalagan ini, surganya laut lho.”

Itulah pertama kali aku berkenalan dengan sahabatku, Aini. Teman yang selalu setiap harinya ceria, cerita ini dan itu, sangat bersemangat. Katanya sih dia sangat pintar melukis, walaupun aku belum pernah melihat karyanya yang katanya MAHA KARYA.

Tahun 2015, Saat di perjalanan,

Sudah kuduga akan berangkat menggunakan kapal klotok yang ukurannya sedang. Dan kupastikan perjalanan ini akan sangat lama. Apalagi cuaca yang tak cukup mendukung malam itu, ombak laut sedang besar. Benar kata Aini, perjalanan ini tidak akan mudah. Kapal mulai bergerak sekitar jam 1 pagi, yang seharusnya sudah berangkat dari jam 10 malam tadi. Baling-baling kapal tersangkut oleh jangkarnya. Ajaibnya aku bisa tidur dengan sendirinya dengan kondisi seperti itu.

Sebelum waktu subuh aku sudah terbangun, ambil wudhu dengan air minum yang kubawa, dan melaksanakan shalat subuh dalam keadaan duduk, karena tidak memungkinkan shalat seperti biasanya. Menunggu matahari terbit, aku membaca ayat-ayat cinta-Nya menggunakan Smartphone yang signalnya sudah tiada. Pelan tapi pasti, Matahari muncul di sebelah Timur. Menunjukkan panorama Selat Makasar yang indah.

Selang sekitar 2 jam dari matahari terbit, terdengar suara lumba-lumba di sekitar kapal. Dan ternyata benar saja, ada kumpulan lumba-lumba sedang berloncatan tidak jauh dari kapal. Para penumpang terbangun karenat tidak mau ketinggalan pemandangan yang jarang ini. Suara lumba-lumba seolah mengajak untuk bermain, dan panitia trip menawarkan untuk berenang dengan lumba-lumba tersebut. Hanya sebagian kecil dari penumpang yang memutuskan untuk berenang, dan yang lainnya lebih memilih diam di kapal memandangi pemandangan yang jarang ini. Tentu saja aku tidak mau ketinggalan dalam kesempatan ini. Setelah memakai kacamata dan kaki katak, aku segera loncat dari kapal dan langsung berenang bersama kumpulan lumba-lumba itu.

“Aini, lihatlah aku berenang bersama Lumba-lumba,” teriakku disela-sela berenang.

Lumba-lumba itu seperti menuntun kita yang sedang berenang ke dekat pulau tak berpenghuni, yang di dekatnya ternyata menyediakan terumbu-terumbu karang yang indah. Banyak ikan kecil warna-warni yang akupun tak hafal namanya, berenang di sekitar Terumbu karang. Seakan menyambut kami dan mengatakan, “Selamat datang di Kepulauan Balabalagan”. Tak lama kemudian, panitia memanggil kami yang sedang berenang  agar segera naik ke kapal. Mengingat arus laut yang mulai besar dan agar segera sampai ke tujuan.

 

 

Tahun 2008,

Tidak seperti biasa, Aini yang biasanya banyak cerita, menasehati ini dan itu, terdiam dalam waktu yang cukup lama. Aku hanya duduk disampingnya, terdiam. Karena memang biasanya aku banyak diam dan mendengarkan Aini cerita.

“Rasa-rasanya selalu aku yang bercerita,” akhirnya ia berbicara.

“Hm?” aku bingung belum mengerti maksud Aini.

“Iya, kamu jarang sekali bercerita, padahal aku sahabatmu.”

“Karena tanpa aku bercerita, kamu selalu lebih tau daripada aku.”

“Kamu tidak bosan dengan ceritaku?”

“Sama sekali tidak, ceritamu selalu menarik perhatianku.”

“Oke, kalau begitu kau harus mendengar baik-baik perkataanku,” aku hanya mengangguk dan mengubah posisi dudukku menghadapnya.

“Pertama, pastikan kamu berumur panjang, dan segala cita-citamu harus terwujud, dari mulai keinginanmu kuliah di Jepang, menjadi guru, menulis buku, relawan di desa-desa,  dan yang lainnya.

Jangan pernah menyerah pada cita-citamu apapun yang terjadi.

Saat kamu sedang berjuang untuk mencapai cita-citamu, pastikan cukup istirahat dan makan. Jangan karena kamu sibuk berjuang mencapai cita-cita, kesehatanmu terbengkalai,” jelasnya panjang lebar.

“Hm, akan kupastikan itu semua kukerjakan,” jawabku sambil menggenggam tangannya yang mulai dingin karena udara malam.

“Saat semua cita-citamu terwujud, kita harus pergi ke Kepulauan Balabalagan bersama,” lanjutnya.

“Hm, akan sangat kupastikan semua akan terwujud, janji!” aku mengangguk mantap sambil mengulurkan jari kelingking, tanda perjanjian.

“Langit malam ini yang penuh dengan bintang bakal jadi saksi janjimu,” Aini menyambut kelingkingku dan aku hanya mengangguk. “Besok aku akan operasi,” lanjut Aini.

“Yakinlah semua akan baik-baik saja,” jawabku sambil tersenyum.

Tahun 2015, di Kepulauan Balabalagan,

Sekitar jam 11 pagi, kapal merapat ke salah satu pulau berpenghuni di Kepulauan Balabalagan, Pulau Popongan. Pasir putih beserta air laut yang sangat bening di dermaga, membuat hati terpesona dengan keindahan pulau ini. Aku rasa pulau ini luasnya tidak sampai 2 km2. Ah, aku lupa angka pasti luas pulau ini, padahal Aini pernah menyebutkannya. Kedatangan rombongan disambut dengan senyum warga yang sangat ramah. Banyak juga warga yang membantu membawa bawaan kita, termasuk anak-anak kecil pulau.

Setelah istirahat, bersih-bersih badan dan makan siang, rombongan siap berangkat lagi ke pulau-pulau sekitar menggunakan kapal-kapal nelayan yang sudah terparkir di belakang pulau. Tidak seperti di Dermaga, yang pantainya sangat bersih. Di Belakang pulau banyak sampah berserakan, sepertinya warga membuang sampahnya ke laut. Aku rasa Aini melewatkan cerita sampah yang berserakan kepadaku. Tak butuh waktu lama pergi ke pulau sekitar. Sepanjang perjalanan disuguhi keindahan lautan yang bening nan biru. Terik matahari tak menyurutkan semangatku untuk menyelami lautan yang selalu diceritakan Aini.

Benar saja kata Aini, dalam lautan disini bagai surga dunia. Banyak sekali terumbu karang tersusun indah di lautan. Banyak sekali ikan kecil yang berenang, dan yang kukenal hanya ikan Nemo. Aku rasa Aini juga tidak akan hafal dengan nama ikan-ikan kecil ini. Ditengah-tengah sedang menikmati pemandangan bawah laut yang mempesona, aku teringat kata Aini yang harus berhati-hati. Karena banyak bulu babi di sekitar terumbu karang. Lagi-lagi Aini benar, banyak Bulu Babi di sekitar Terumbu karang. Untung saja aku menggunakan kaki katak. Semakin aku menyelam lebih dalam, semakin indah pemandangan yang terpampang. Yang biasanya hanya bisa kulihat di gambar, tv ataupun cerita dari Aini, bisa kulihat dengan mataku sendiri. Tanpa sadar aku sudah sangat jauh dari rombongan. Aku teringat kata-kata Aini lagi,

“Ingat, jangan jauh-jauh dari Rombongan! Nanti kalau tiba-tiba ada ikan hiu gimana?” Aku tersenyum sendiri mengingatnya, dan segera kembali ke Rombongan.

Malam harinya, Rombongan bemain bersama anak-anak pulau yang lincah-lincah. Sinar-sinar kebahagiaan terpancar dari mata anak-anak pulau ini. Tidak lupa aku mengeluarkan lampion yang sudah kusiapkan di tas. Lagi-lagi pesan dari Aini, karena katanya anak-anak pulau sangat senang menerbangkan lampion. Dan benar sekali, anak-anak pulau sangat exited menerbangkan lampion-lampion. Sangat indah melihat lampion-lampion terbang yang seolah bersatu dengan bintang-bintang di langit.

Hari mulai larut, orang-orang sudah siap-siap untuk beristirahat. Sedangkan aku masih enggan untuk istirahat. Kukeluarkan buku diary yang biasanya kutulis bersama Aini. Ada sketsa gambar yang dibuat Aini yang katanya MAHA KARYA. Sketsanya mirip sekali dengan pemandangan yang kulihat tadi sore. Hanya saja bedanya, Aini menggambarkan aku dan dia di sudut kanan bawah. Tak terasa air mataku mengalir, mengingat yang sudah kulewati bersama Aini.

Aini,

Aku sudah menepati janjiku,

Semua cita-citaku terwujud seperti yang sudah kujanjikan

Dan hari ini aku ada di Kepulauan Balabalagan,

Bersama matamu yang indah,

Terima kasih karena telah memberi kesempatan untuk melihat dunia

Benar katamu Aini,

Balabalagan indah bagai surga

Tapi aku yakin, surga yang kamu tempati sekarang berjuta kali lipat indahnya

03bc8-original

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis

Tentang yulijannaini

Seseorang yang ingin bercerita tentang kehidupannya
Pos ini dipublikasikan di Curcol dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Balabalagan di Mata Aini

  1. tonisitania berkata:

    Wah… wah… Balabalagan ditulis dengan indah🙂 Suka.

    Persis yang aku tulis di sini : http://anakbuangan.tumblr.com/post/116052792157/cerita-dari-balabalagan-balabalakang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s