Dilarang Mengaji

Awal tahun ini dimulai dengan cerita yang kurang mengenakan bagi saya. Setelah memutuskan resign dari pekerjaan lama dan mendapat pekerjaan baru. Di tempat baru pastilah lingkungan baru dan tantangan baru. Awalnya saya sangat suka pekerjaan saya di tempat yang baru. Walau terbilang banyak pekerjaan, tapi saya benar-benar menikmati. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk resign setelah 3 minggu bekerja disana. Saya tidak akan menyebutkan nama perusahaan, karena yang akan saya ceritakan kurang mengenakan.
Tahun baru, tentu target ibadah baru. Itu sudah biasa bagi saya, tapi ternyata tidak di lingkungan baru saya. Terlihat aneh mungkin dimata mereka, kemana-mana membawa quran kecil dan sering mencuri kesempatan untuk membaca. Prinsip saya, yang penting kerjaan saya beres, terserah saya mau ngapain. Toh, teman-teman saya yang lain juga seperti itu. Saat pekerjaan selesai mereka bahkan sibuk membuka internet d komputer masing-masing. Bahkan mereka secara kompak nonton film horor yang menurut saya tidak berkualitas. Merasa tidak cocok, tentu saja saya mundur agak kepojokan dan memulai kegiatan sendiri. Tak aneh yang saya kerjakan, hanya membaca. Membaca quran atau sekedar novel. Membaca tanpa suara. Apakah itu terlihat aneh? Toh saat ada pekerjaan baru saya langsung mengerjakannya dan meninggalkan bacaan saya. Saat ada yang mengajak ngobrol, saya tutup buku dan mendengarkan lawan bicara saya bicara.
Ternyata yang saya lakukan dianggap tabu, aneh, dan salah dimata lingkungan baru saya. Mereka menganggap bahwa Quran yang saya baca cukup saat saya melakuka shalat. Dan saya tidak boleh mbacanya di ruang kantor. Mereka menganggap saya aneh, begitupun saya yang menganggap mereka aneh. Barang tentu saya keberatan, karena saya merasa tidak mengganggu urusan mereka. Memang yang bicara seperti itu hanya 1 orang, tapi saat ‘penghakiman secara sepihak’ itu terjadi yang lain hanya diam, tidak membela. Ada 2 kemungkinan, 1 mereka bingung harus berkata apa, 2 mereka membenarkan kata-kata 1 orang itu. Saya harap yang terjadi adalah kemungkinan pertama. Rasanya ingin sekali menampar orang yang melarang saya Mengaji itu, tapi untuk apa membalasnya dengan amarah? Akhirnya saya memutuskan untuk resign hari itu juga. Awalnya saya berharap pihak perusahaan sekedar mengatakan maaf atau klarifikasi, tapi sampai hari ini (sudah 1 minggu), tidak ada 1pun orang yang menghubungi saya untuk sekedar basa-basi. Kalau saya bekerja di Eropa atau perusahaan asing, saya mungkin masih ‘agak’ mewajarkan hal yang terjadi. Saya tidak tahu apakah yang saya perbuat ini benar atau salah. Tapi yang pasti, memutuskan untuk resign membuat hati saya sekarang lebih tenang. Karena sekarang saya bisa mengaji kapanpun saya mau, membaca dimanapun saya mau.
Dan saya yakin, Allah akan memberi saya yang lebih baik bahkan yang terbaik untuk saya. Untuk perusahaan ‘aneh’ itu, saya berharap hati orang-orang di dalamnya terketuk untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.

image

Padahal saya suka dengan pemandangan di luar kantor, Selamat tinggal perusahaan 'aneh'

Tentang yulijannaini

Seseorang yang ingin bercerita tentang kehidupannya
Pos ini dipublikasikan di Curcol dan tag , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Dilarang Mengaji

  1. Intan berkata:

    huwaaa…jadi ini yg kau twit itu?😥
    maaf baru baca…

    innalillah…ibadah sudah mulai menjadi sesuatu yg aneh ya Yul, padahal mungkin orang2 yg kurang suka itu masih sesama muslim. Gapapa, yul…Kita bela perintah Allah, inshaAllah Dia permudah jalan lain🙂 semangat!

  2. Afdil berkata:

    tetep semangat !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s