Rasa sahabat atau cinta?

Apa rasa garam? Pasti asin. Kalo gula? Pasti manis. Nah, kalo rasa perasaan anda saat ini gimana? Tentu dalam mengekspresikan rasa soal perasaan berbeda dengan lidah. Lidah bilang bahagia, tapi kenyataannya perasaan yang tersiksa. Ataupun sebaliknya. Bahkan ada banyak yang tidak mengerti perasaannya sendiri. Salah paham dengan perasaan sendiri.

Saya pernah dengar dari seorang teteh “Perempuan dan laki-laki itu tidak bisa dikatakan sahabat, karena minimal pasti ada salah satu menyimpan rasa cinta.” Ada yang sepakat? Mungkin sudah fitrahnya yang beda gender pasti mempunyai ketertarikan satu dan yang lain. Saya ingin cerita tentang kisah lama, sekitar 4-5 tahun yang lalu. Sebenarnya masa itu sudah lewat, tapi saya tetap ingin cerita dan semoga yang membacanya bisa mengambil hikmah dari cerita saya.

Saat masa SMA saya mempunyai beberapa sahabat dekat dan salah satunya adalah seorang laki-laki. Saya bisa cerita apapun sama dia. Setiap ada masalah pasti saya cerita sama dia. Suatu saat saya merasakan ada yang aneh antara saya dan dia. Setiap dia dekat dengan perempuan, ada rasa takut kalo dia lebih akrab dengan yang lain. Ingin sekali marah tapi ya apa daya akhirnya hanya dipendam. Siapa saya? Pikir saya waktu itu. Dan ternyata bukan saya saja yang merasakan itu. Dia juga merasakan seperti itu.

Ada beberapa teman yang mulai menyadari perasaan kami berdua yang akhirnya menjadi Mak Comblang. Pada akhirnya dia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada saya, dan akhirnya kita-pun berpacaran. Dia lebih intens memperhatikan saya, kadang dia mengantar jemput kalo saya mau berpergian (itu pacar ato tukang ojeg?:mrgreen: ). Dan ternyata setelah kami jadianpun tetap ada perasaan aneh yang saya rasakan. Apalagi saat dia SMS seperti “Selamat tidur Sayang. I Love You”. Ada perasaan yang mengatakan “Kayaknya ada yang salah deh.” Saking merasa anehnya, tak jarang saya tidak membalas SMS. Semenjak jadian bahkan saya hampir tidak pernah curhat sama dia. Karena terasa aneh aja kalo saya curhat ke dia.

Kebetulan saat jadian sama dia, kita berdua baru aja lulus SMA. Saya meneruskan kuliah sedangkan dia bekerja. Mungkin bisa dibilang LDR (Long Disten Relationship) karena kita berdua sangat jarang bertemu.  Bahkan bisa dibilang saya sudah lupa kalo punya pacar (kejam niann:mrgreen: ). Sampai salah satu teman menanyakan soal hubungan kita karena tidak pernah terlihat berdua. Saya cuma bisa senyum dan berkata, “Masih kok, cuma lagi sama-sama sibuk aja.”

Dari sana saya mikir, mau dibawa kemana hubungan kita? (kayak lagu aje😀 ). Di satu sisi saya pengen putus, tapi di satu sisi lainnya saya takut kalo putus maka hubungan persahatan kita juga putus. Akhirnya saya beranikan diri buat ketemuan. Yang tak lain adalah ingin putus. Tapi ternyata rencana tidak semudah prakteknya, saya cuma bisa diam dan ga berani bilang putus duluan.

Akhirnya dia yang pertama bicara. Mungkin emang dasarnya kita sahabatan dan 1 pemikiran, ternyata dia juga ingin putus. Biasanya kalo orang putus pasti beruraian air mata atau marah. Tapi kita berdua tidak seperti itu. Malahan kita menertawakan kenapa kita bisa jadian. Trus gimana setelah putus? Saya merasa kembali seperti dulu, saya bisa curhat apapun sama dia. Walaupun tidak sesering dulu. Tapi yang pasti saya mendapatkan sahabat saya lagi. Sampai sekarangpun hubungan kami masih sama yaitu sahabat. Tidak lagi ada perasaan ingin marah kalo dia dekat sama perempuan atau bahkan jadian dengan yang lain.

Jadi intinya apa? Menurut saya intinya adalah belajarlah untuk mengenal perasaanmu sendiri. Apakah perasaanmu itu suka, sayang atau cinta. Kamu melihat sahabat yang beda gender itu sebagai pasangan atau sahabat. Jadi apakah persahabatan beda gender itu masih memungkinkan? Menurut saya, masih. Eh, tapi saya tidak menganjurkan kamu punya sahabat yang beda gender ya. Lebih baik punya sahabat yang sama gender-nya. Kalo mau curhat ya sama Allah aja. Atau di blog kayak saya:mrgreen: tapi harus tetap dipilih-pilih ya curcolnya kalo di blog atau sosial media lainnya.

Tentang yulijannaini

Seseorang yang ingin bercerita tentang kehidupannya
Pos ini dipublikasikan di Curcol dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Rasa sahabat atau cinta?

  1. Ping balik: Rahasia Hati – Nidji | Setitik Hikmah dalam Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s