19 Juni 1997

Palembang

19 Juni  1997 (Pagi)

Jam 7 pagi gadis kecil itu sudah meminta untuk diantarkan ke rumah sakit dimana ayahnya dirawat. Bukan seperti orang dewasa pada umumnya ingin menjenguk seseorang. Gadis kecil itu hanya ingin mencoba makanan rumah sakit, pergi ke kamar mandi, dan tidur di ranjang kecil yang berada di kamar rawat itu. Terlihat di kamar itu sesosok wanita paru baya dengan mata yang sembab, setia menemani suaminya yang berinfus ditangan kanannya.

19 Juni 1997 (Siang)

Gadis kecil itu berlari ke arah ayahnya yang sedang ditempat tidur. Ayahnya memeluk dan mencium sang gadis kecil. Ayahnya membisikkan sesuatu pada gadis kecil itu.

“Shalat 5 waktunya jangan ditinggal ya.”

Gadis kecil itu hanya mengangguk dan memeluk ayahnya.

19 Juni 1997 (Sore)

Keluarga besar, satu per satu menjenguk sang ayah. Gadis kecil yang merasa “tempat mainnya” diganggu, akhirnya memilih untuk tidur di ranjang kecil di ruangan itu.

19 Juni 1997 Jam 19.00

Gadis kecil itu terbangun, dan kondisi di kamar itu sudah penuh dengan isak tangis. Gadis kecil itu mendekat ke tempat tidur ayahnya. Ia melihat banyak sekali kabel-kabel berwarna-warni ditempelkan ke dada ayahnya. Saat sang ibu melihat gadis kecil itu sedang kebingungan, sang ibu langsung memeluk sambil menangis ke arah gadis kecil itu. Gadis kecil itu belum bisa menangkap apa yang terjadi pada ayahnya, tetapi entah kenapa ada hawa takut saat itu, dan gadis kecil itupun menangis. Hanya 1 orang yang tegar dan tidak menangis diruangan itu. Orang itu adalah kakak ketiganya.

20 Juni 1997 (Pagi)

Gadis kecil baru saja keluar kamar rumah ua’nya. Sama seperti tadi malam, gadis kecil itu melihat banyak orang berkumpul disertai isak tangis. Setiap orang yang melihat gadis kecil itu, langsung memeluk sambil menangis. Di ruang tengah, gadis kecil itu melihat neneknya yang sedang menangis di samping seseorang yang ditutup oleh kain. Saat gadis kecil itu mendekat neneknyapun langsung memeluk dan menciumnya. Dan saat itu pula gadis kecil itu mengerti, ia tidak akan bertemu lagi dengan ayahnya. Saat itu pula tumpah sudah air mata gadis kecil itu.

Tak lama kemudian datanglah kakak pertama dan kedua gadis kecil itu yang baru saja datang dari Bandung. Gadis kecil dan kakak keempat larut dalam isak tangis ketika melihat kakak-kakaknya yang menangis sambil memeluk jasad ayahnya yang belum terbungkus kain kafan.

Saat jasad ayahnya sudah terbungkus kain kafan, gadis kecil itu mendekat dan mencium wajah ayahnya. Begitu pula dengan kakak-kakaknya. Hanya 1 orang yang bisa menahan air matanya, yaitu kakak ketiga. Kakak ketiga lebih tenang menghadapi dirinya sendiri maupun orang lain. Walaupun mungkin ia menangis dalam hati.

Gadis kecil itu naik mobil yang berada tepat di belakang Ambulance. Mengantarkan ke tempat istirahat terakhir ayahnya. Di mobil gadis kecil itu, melihat ke arah langit. Dan terlihat ada 2 burung Elang yang terbang berputar di langit, mengikuti rombongan. Seakan-akan ikut mengantar kepergian sang ayah.

“Selamat jalan Pah, semoga kelak kita sekeluarga bertemu di SurgaNya”

-Gadis Kecil-

Iklan

Tentang yulijannaini

Seseorang yang ingin bercerita tentang kehidupannya
Pos ini dipublikasikan di Curcol dan tag . Tandai permalink.

15 Balasan ke 19 Juni 1997

  1. Red berkata:

    fiksi atau nyata ?

  2. vonarief berkata:

    kunjungan balik nihh,,,

    waahh,, keren bangett,,,
    semoga bisa menginspirasi saya 🙂

  3. kk k-4 berkata:

    nah tuh bru ad ak….
    Nah ni baru nangis….

  4. iyok berkata:

    wkwkwk nted disuruh 5 waktu…….bangun subuh aja susahnya setengah mati 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s